Kamis, 18 November 2010

Aturan Bosman dan LPI, samakah ?

Masih ingatkah  anda dengan kasus Jean-Marc Bosman, pemain di RFC Liege, klub divisi dua Liga Belgia yang kontraknya berakhir pada 1990 dan dia berniat pindah ke Dunkerque, klub di Prancis. Namun Dunkerque tidak memberikan kompensasi transfer yang cukup kepada RFC Liege. Klub Belgia itu menolak perpindahan Bosman.

Karena jasanya Bosman, yang memenangkan banding di European Court of Justice ( ERC ), merubah wajah persepakbolaan eropa, terutama dalam hal transfer pemain. Sebelum adanya aturan bosman, klub sepakbola merupakan majikan bagi pemain dalam skuadnya. Setelah adanya aturan Bosman, pemainlah yang menjadi raja. Pemain andal bisa mendapatkan jutaan dolar setiap tahun.

Sekelumit diatas selain membuka memori kita tentang indahnya sepakbola dimasa era awal 90an, juga menggambarkan dalam sepakbolapun harus ada unsur demokrasi. Perubahan perubahanpun dapat mencerahkan wajah sepakbola kita, dengan jargon perubahan dan keadilan LPI maju kedepan untuk membawa misinya yang idealis itu.

Akankah perubahan perubahan itu akan berjalan mulus atau banyak pihak yang akan menjegalnya ?, seperti bobroknya negara ini oleh buruknya wajah wajah pemimpin kita. Bangsa ini sudah sepatutnya merubah segalanya dalam satu komando yang konsisten yang berani menanggung resiko apapun demi perubahan ini. Begitu juga didunia sepakbola kita, sudah mestinya ada perubahan, agar secerah wajah sepakbola eropa pasca Bosman memenangkan banding di European Court of Justic.(mt)

Rabu, 17 November 2010

Negative Football VS Positve Football

Jika bicara tentang persepakbolaan nasional maka akan terbelit dibenak para pecinta sepakbola nasional sebuah kekecewaan yang sangat mendalam dengan prestasi sepakbola nasional kita. Kita tahu sepakbola kita adalah termasuk yang tertua di asia tenggara, kita memang sempat menjadi macan asia, era 60 - 80an.

Awal tahun 90an adalah titik balik kemunduran sepakbola nasional, meskipun tahun 1994, PSSI meluncurkan liga profesional pertamanya. Hingga saat ini liga yang bergulir adalah liga ISL yang berjalan dengan teratur, tapi apa lacur, sepakbola kita tak pundung pula menampak prestasi. Di liga antar klub asia, klub klub asal ISL termasuk klub klub gurem yang selalu menanggung beban gol yang sangat banyak, miris sekali padahal mereka adalah klub klub juara di liga nasional kita.

Sebuah kompetisi seharusnya melahirkan tim tim yang berqualifikasi, mapan dan maju. ISL dengan jadwal padatnya menempa klub klub dengan begitu kerasnya memacu klub untuk bersaing dan mendapatkan apa yang diinginkan. Ada klub yang sangat perkasa di liga ini, tetapi ketika berhadapat dengan klub asal asia lain terlihat jurang jenjang klub yang sangat tinggi.

Ada apa dan kenapa? jawaban yang logis dan spontan adalah bahwa kompetisi kita tidak sebagus dengan mereka. Tetapi kalau kita melihat hegomoni ISL yang begitu mengharu biru, tak terlihat kompetisi ini adalah kompetisi 'abal-abal'. Kambing hitam kedua yang kita bisa salahkan adalah apakah kompetisi sesuai dengan aturan mainnya ? inilah jawaban yang harus kita temukan. (mt)

bersambung..

Minggu, 14 November 2010

Jumat, 12 November 2010