Masih ingatkah anda dengan kasus Jean-Marc Bosman, pemain di RFC Liege, klub divisi dua Liga Belgia yang kontraknya berakhir pada 1990 dan dia berniat pindah ke Dunkerque, klub di Prancis. Namun Dunkerque tidak memberikan kompensasi transfer yang cukup kepada RFC Liege. Klub Belgia itu menolak perpindahan Bosman.
Karena jasanya Bosman, yang memenangkan banding di European Court of Justice ( ERC ), merubah wajah persepakbolaan eropa, terutama dalam hal transfer pemain. Sebelum adanya aturan bosman, klub sepakbola merupakan majikan bagi pemain dalam skuadnya. Setelah adanya aturan Bosman, pemainlah yang menjadi raja. Pemain andal bisa mendapatkan jutaan dolar setiap tahun.
Sekelumit diatas selain membuka memori kita tentang indahnya sepakbola dimasa era awal 90an, juga menggambarkan dalam sepakbolapun harus ada unsur demokrasi. Perubahan perubahanpun dapat mencerahkan wajah sepakbola kita, dengan jargon perubahan dan keadilan LPI maju kedepan untuk membawa misinya yang idealis itu.
Akankah perubahan perubahan itu akan berjalan mulus atau banyak pihak yang akan menjegalnya ?, seperti bobroknya negara ini oleh buruknya wajah wajah pemimpin kita. Bangsa ini sudah sepatutnya merubah segalanya dalam satu komando yang konsisten yang berani menanggung resiko apapun demi perubahan ini. Begitu juga didunia sepakbola kita, sudah mestinya ada perubahan, agar secerah wajah sepakbola eropa pasca Bosman memenangkan banding di European Court of Justic.(mt)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar